Penyakit Psikologis Yang Sering Dialami Oleh Para Pengemar Anime

23.46

Baca Juga

Berikut ini merupakan Penyakit Psikologis Yang Sering Dialami Oleh Para Pengemar Anime. Namun, tak semua orang pengemar anime mengidap penyakit sosial seperti ini. Penyakit sosial seperti ini sangat sering dijumpai di Jepang serta beberapa negara maju lain. Namun di Indonesia untungnya sampai saat ini masih belum terjamah penyaakit sosial seperti ini, akan tetapi sudah mulai terlihat gejala-gejalanya.

Sebenarnya penyebab dari Penyakit Psikologis Yang Sering Dialami Oleh Para Pengemar Anime seperti ini ada banyak sekali faktornya, jadi bukan hanya karena kecanduan Anime saja, tetapi terdapat factor-faktor lainnya lagi seperti halnya faktor yang datangnya melalui pengaruh keluarga, lingkungan pergaulan dan lain-lain. Jadi sebenarnya memang tidak semua orang pengemar anime seperti yang telah dijelaskan di dalam artikel ini mengalaminya. Namun oleh karena Jepang merupakan sumber asal dari anime, maka tidak sedikit para pengemar anime yang terkena masalah disana, disangkutpautkan langsung dengan anime pada saat diberitakan di media.

Namun sebenarnya seperti apa penyakit sosial tersebut, berikut ini merupakan 4 Penyakit Psikologis Yang Sering Dialami Oleh Para Pengemar Anime :

1. Chuunibyo


Chuunibyo , bahasa kasarnya merupakan gejala atau sindrom atau penyakit pada saat kelas dua SMP. Chuunibyou ini merupakan suatu gejala seorang anak berumur sekitar 14 tahun, dimana anak-anak itu cenderung bersikap sok atau dalam artian mereka bersikap seolah-olah mereka memiliki suatu kekuatan supranatural atau kekuatan lain semacamnya. Namun ada pula yang bersikap sombong, jijikan dan bahkan lagi ada yang sampai meremehkan orang lain di sekitarnya.

Sikap-sikap seperti demikian ini seringkali ditemukan pada para anak remaja yang mulai memasuki masa-masa pubertas mereka. Namun masih terdapat juga beberapa orang yang telah dewasa ( melewati masa SMA-nya ) masih saja bersikap demikian. Contoh seseorang Chunibyou adalah mereka-mereka yang suka dan senang meniru gaya dari tokoh-tokoh kartun, anime seperti halnnya kamen rider ataupun power ranger dll.


2. WEEABOO


WEEABOO ini sering kali disamakan dengan istilah jepang WAPANESE yang artinya JAPANESE WANNABE atau WANT TO BE JAPANESE atau semacam orang jepang namun jadi-jadian atau dalam bahasa kerennya alay jejepangan. Weeaboo ini bisa dianggap dengan seseorang pengemar anime namun versi ekstrim. Akan tetapi seseorang pengemar anime belum tentu merupakan seorang Weaaboo, namun dapat dipastikan bahwa seorang Weeaboo adalah seorang pengemar anime. Weeaboo merupakan seseorang yang sangat senang mempertontonkan dirinya ala orang jepang yang sangat ke-jepang-an, bahkan hal ini melebihi orang-orang jepang yang aslinya.

Mereka sebenarnya merupakan orang yang sangat terobsesi sekali dengan jepang, bertingkah laku seperti hanlnya orang jepang dan seolah-olah mereka kini sedang tinggal di Jepang, bersifat layaknya orang Jepang, berbicara menggunakan gaya bahasa Jepang dengan segala macam istilah-istilah ajaib yang berhasil mereka update. Padahal pada kenyataanya mereka sama sekali bukanlah orang Jepang, bukan pula warga negara Jepang, dan lebih-lebih tidak juga tinggal di jepang.

Inspirasi mereka itu berasal dari berbagai film anime atau bacaan manga. Bagi diri mereka film anime dan bacaan manga adalah sumber utama sebuah kebenaran, sumber utama ilmu pengetahuan, dan juga sumber utama bahasa. Dalam benaknya pikirannya negara Jepang merupakan semacam holy land di planet bumi ini, dan segala macam hal yang berkenaan dengan Jepang adalah yang ter-Super ultra fantastic mega we some. Bagi diri mereka, semua orang di dunia ini harus beranggapan baik terhadap yang berkenaan dengan Jepang, termasuk didalamnya mengerti dan juga memahami Jepang baik dari sisi budaya, sisi tradisi dan juga sisi kebiasaannya.

Mereka akan mudah naik pitam apabila kamu berani mencoba untuk menjelek-jelekan Jepang dimata mereka. Fenomena Weeaboo seperti ini sudah banyak sekali terjadi dan juga tersebar ke seluruh penjuru dunia, termasuk juga di Indonesia. Weeaboo adalah seorang pengemar film anime yang merasa bahwa dirinya seperti hidup di kehidupan anime dan kemudian bergaya ke Jepang-Jepangan atasnya.


3. Nijikon

Merupakan Penyakit Psikologis Yang Sering Dialami Oleh Para Pengemar Anime

Nijikon merupakan suatu istilah dalam bahasa Jepang yang seringkali digunakan untuk merujuk pada seseorang yang hanya merasa tertarik atau terobsesi dengan wujud 2D atau dua dimensional saja. Wujud 2D ini dapat berupa karakter dalam anime, dalam manga, dan bahkan dalam permainan video, yang notabene adalah depiksi 2D di atas selembar kertas atau layar, serta bentuk figur boneka dari karakter-karakter tersebut. Istilah ini sebernarnya adalah singkatan dari istilah Nijigen kompurekkusu yang artinya Kompleks 2 Dimensi.

Orang-orang yang terobsesi kepada salah satu atau bahkan lebih karakter dalam anime, manga, atau permainan video game biasa menyebut diri mereka sendiri sebagai Nijigen Otaku ( Niji Ota ) atau Otaku penggemar 2D. Namun sebaliknya, Pengemar dari Anime, manga atau permainan video game ini sendiri tak pernah mau mengakui bahwa dirinya telah menderita Nijikon. Dan pada kasus yang terbilang serius, seorang laki-laki penderita Nijikon ini hanya merasa memiliki rasa cinta kepada karakter-karakter perempuan dalam anime, manga, atau permainan video game saja.

Pada para pria maupun para wanita yang menderita Nijikon ini, minat seksualnya terhadap para manusia lawan jenisnya yang ada pada kehidupan nyata sudah tidak ada lagi. Contohnya saja Lee Jin Gyu, seorang pemuda berkebangsaan Korea, menikahi darimakura yakni sebuah bantal berukuran besar yang menampilkan gambar dari karakter anime favoritnya, Fate Testarossa. Fate Testarossa itu sendiri adalah seorang tokoh wanita terkenal dalam anime Mahou Shoujo Lyrical Nanoha. Pada pernikahannya itu, dia menghiasai bantal miliknya itu dengan gaun pengantin dan kemudian keduanya berdiri di hadapan pendeta.


4. Hikikomori

Penyakit Psikologis Yang Sering Dialami Oleh Para Pengemar Anime

Hikikomori itu sendiri merupakan suatu istilah Jepang yang artinya menarik diri (menutup diri). Istilah ini mulai menarik perhatian berbagai media sejak tahun 1999-2000an oleh sebab kasusnya yang terbilang cukup fenomenal. Telah diduga ada sekitar 2 juta remaja di Jepang yang kebanyakan berusia 13-20 tahun mengalami penyakit psikologis ini. Sindrom yang terlihat paling jelas dari hikikomori ini yakni seseorang tidak pernah keluar dari rumah atau bahkan kamarnya. Telah tercatat ada beberapa orang yang enggan untuk keluar dari kamarnya selama kurang lebih hampir 10 tahun.

Fenomena seperti ini seringkali dijumpai dibeberapa negara maju. Di berbagai negara, hikikomori telah dianggap sebagai penyakit psikologi, penyakit sosial sindrom PDD dan autisme. Namun hanya di Jepang, yang menganggap Hikikomori sebagai fenomena sosial saja karena saking banyaknya. Kebanyakan para masyarakat percaya bahwa faktor dari keluarga dan lingkungan berada dibalik kasus-kasus penyakit psikologis hikikomori ini.

Hilangnya figur dari seorang ayah yang terlalu sibuk bekerja, serta seorang ibu yang terlalu dalam memanjakan anaknya, dan juga tekanan akademik dari lingkungan sekolah, school bullying atau bullying di sekolah, dan maraknya permainan video game di negara Jepang menjadi penyebabnya. Semakin tua usia dari seorang hikikomori, maka semakin kecil kemungkinan bagi seorang hikikomori bisa berkompeten atau berkompetisi di dunia luar. Bahkan bisa terjadi kemungkinan bahwa seorang hikikomori tidak dapat kembali normal untuk bisa bekerja atau membangun suatu relasi sosial, seperti halnya menikah.

Beri komentar dan bagikan ya!

Previous
Next Post »

4 komentar