Semanggi, Kuliner 'Keberuntungan' Surabaya yang Nyaris Punah

08.00

Baca Juga

Semanggi, Kuliner 'Keberuntungan' Surabaya yang Nyaris Punah - Sepenggal lirik lagu keroncong berjudul Semanggi Suroboyo itu memamerkan salah satu makanan khas Kota Pahlawan. Semanggi. Seperti namanya, makanan itu dibuat dari daun semanggi, yang identik dengan keberuntungan.

Semanggi menjadi makanan khas Surabaya karena pada zaman dahulu, kota yang sekarang menjadi ke-dua terbesar setelah Jakarta itu dipenuhi rawa. Semak semanggi tumbuh di sekitarnya. Masyarakat kemudian menjadikannya makanan.



Setelah dipetik, daun semanggi dibersihkan lalu direndam air panas selama beberapa saat. Dalam penyajiannya ia kemudian dipadukan dengan tauge yang juga sudah direbus. Semanggi bercampur tauge diletakkan di atas daun pisang yang sudah dibentuk segitiga, alias pincuk.

Semanggi tidak dimakan begitu saja. Ada bumbu cokelat kental yang dituangkan di atasnya. Bumbu itu dibuat khusus, merupakan perpaduan dari ketela, kacang tanah, dan gula merah.

Sekilas, sajian semanggi mirip dengan pecel madiun atau pecel sayur. Dedaunan yang disiram bumbu kecokelatan. Namun cita rasa semanggi jauh berbeda dari pecel. Bumbunya menciptakan rasa manis saat dicecap lidah. Bukan hanya manis gula merah, tetapi juga ketela rambat.

Biasanya, seperti pecel, bumbu itu dibuat padat. Saat disajikan, baru dicampur air sehingga lebih encer. Terkadang rasa dan teksturnya masih kental akan ketela atau ubi. Itu berpadu dengan gurih semanggi dan tauge.

Tidak cukup hanya daun semanggi, tauge, dan bumbu yang membuat makanan itu disukai. Semanggi juga biasanya disajikan dengan kerupuk puli, atau biasa disebut kerupuk gendar yang terbuat dari beras, berukuran besar juga membuat cita rasanya makin gurih.

Semanggi tidak bisa ditemui secara sembarangan di Surabaya. Ia tak dijual di pinggir-pinggir jalan, apalagi restoran pusat perbelanjaan. Biasanya penjual makanan tradisional itu keluar masuk kampung sembari menggendong bakul dagangannya dengan selembar kain selendang.

Si penjual pun penampilannya khas. Umumnya ibu-ibu, mengenakan busana tradisional berupa kebaya dan jarit. Sembari menjajakan makanannya mereka bersuara melengking meneriakkan semanggi. Terkadang ada yang mangkal, biasanya di pusat seperti Balai kota.

Namun jika kesusahan mencari semanggi, ada satu kampung di Surabaya yang dipenuhi penjual semanggi. Desa Kendung namanya. Ia berada di Benowo, wilayah pinggiran Surabaya yang dekat dengan Gresik. Di sana, sebagian warga merupakan pembudidaya tanaman semanggi. Sebagian lainnya merupakan penjual semanggi.

Mereka lah yang setiap pagi menyebar ke pelosok-pelosok Surabaya, menjajakan semanggi dengan busana khas dan suara melengkingnya. Sepincuk semanggi dijual dengan harga sangat murah, hanya sekitar lima ribu rupiah saja.
Previous
Next Post »
0 Komentar