Cerita rakyat jawa tengah dari Brebes cerita jaka poleng

05.00

Baca Juga

Cerita rakyat merupakan cerita yang berkembang di masyarakat. Cerita rakyat nusantara atau cerita rakyat indonesia banyak sekali macam dan jenisnya ada cerita rakyat jawa tengah, cerita rakyat maluku, cerita rakyat jambi. Juga disusun dalam berbagai macam bahasa oleh penulisnya seperti dari cerita rakyat bahasa jawa sampai cerita rakyat bahasa inggris, semua itu hanya untuk supaya semua orang yang ada didunia ini tahu bahwa Indonesia kaya akan cerita yang berkembang dalam masyarakatnya. 

Adapun contoh judul dari cerita rakyat adalah cerita rakyat danau toba, cerita rakyat timun mas, cerita rakyat timun mas, cerita rakyat bawang merah-bawang putih dan lain sebagainya. Berikut ini saya tuliskan salah satu contoh cerita rakyat jawa tengah dari kabupaten brebes yang berjudul cerita Jaka Poleng

Pada suatu pagi disebuah halaman dibelakang pendopo kabupaten Brebes terlihat Bi Ojah sedang menyapu. Meskipun kondisi pada saat itu masih pagi sekali tetapi Bi Ojah sudah mulai melakukan pekerjaannya, membersihkan halaman belakang pendopo kabupaten. Tak lama kemudian setelah semua sampah terkumpul dan siap untuk dibakar, tiba-tiba muncul dari pintu belakang pendopo kabupaten seorang pemuda gagah yang nampak tergesa-gesa berjalan dengan masih mengenakan sarungnya menuju kadang kuda dipojok halaman.
“Pagi Bi Ojah ..” sapa pemuda gagah itu kepada Bi Ojah sembari tersenyum dan berjalan menuju kadang kuda

Pemuda itu adalah Laksito, seorang anak pangon (anak gembala bayaran) kesayangan Kanjeng Bupati. Pekerjaannya yang selalu rapi dan disiplin selepas subuh dalam merawat Kyai Genta kuda kesayangan Kanjeng Bupati, membuat dia selalu disanjung oleh sinuwunnya yaitu Gusti Kanjeng Bupati. Sesampainya didepan kandang kuda Laksito pun langsung melaksanakan pekerjaanya. Dia membersihkan kotor-kotoran yang ada dikandang, memandikan Kyai Genta dan juga memberinya makan.

Tak lama setelah semuanya mulai terlihat bersih dan rapi, Bi Ojah memanggil Laksito
“Sini loh To kamu istirahat dulu, ini Bi Ojah sudah buatkan Teh poci dan Kue alu-alu buat kamu.” Karena pekerjaannya sudah selesai Leksito pun beristrahat sejenak sembari meminum seduhan teh poci dan memakan kue alu-alu yang di buatkan oleh Bi Ojah. Tak lama setelah itu karena rumput pakan Kyai Genta mulai habis Laksito beranjak dari tempat istirahatnya dan bersiap-siap untuk segera pergi ke sawah mencari rumput segar.
“Bi, aku pamit pergi kesawah dulu ya Bi.” Ucap Laksito berpamitan kepada Bi Ojah sambil menyangkutkan dua kerangjang bambu kosong ke pundak sebelah kanannya, serta meletakan sabit tanpa sarung didalam nya.
“Ya sudah kamu hati-hati ya To.” Jawab Bi Ojah kepada Laksito. Tak lama kemudian sosok Laksito mulai terlihat keluar dari balik pintu gerbang pendopo kabupaten.

Ditelusurilah pemantang sawah itu olehnya, hingga berhentilah kakinya itu pada sawah yang terletak dikaki bukit wanasari. Disana terdapat rumput hijau yang lebat dan segar untuk dia ambil sebagai pakan Kyai Genta. Laksito pun dengan segera menurunkan keranjang bambu kosong yang dibawah olehnya, kemudian diambillah sabitnya itu dan tanpa ragu dia langsung menyabit semua rumput gajah segar yang tumbu liar di kaki bukit.

Tak lama kemudian keranjang bambu yang dibawa Laksito kini telah terisi penuh oleh rumput segar yang diambilnya, disaat itu juga tergambar raut wajah lelah Laksito. Laksito pun beristirahat sejenak sebelum kembali ke pendopo. Ia duduk dibawah pohon rindang di kaki bukit sembari mengkipas-kipas badannya dan meminum teguk demi teguk air yang dibawanya. Semilir angin yang berhembus disekitarnya mengentikan cucuran keringat yang keluar dari tubuhnya, rasa lelah kini berganti menjadi rasa kantuk. Namun disaat mata Laksito mulai terlelap didalam tidurnya, Ia melihat seekor Ula Poleng (ular belang) besar bermahkota emas melintas didepannya
Laksito mengkedip-kedipkan matanya beberapa kali bahkan menggosoknya dengan kedua tangannya untuk memastikan bahwa dia tidak sedang bermimpi. Setelah Laksito yakin bahwa itu bukanlah mimpi, Ia mengikuti ular belang itu. Laksito mengendap-endap di belakang ular ajaib itu dan mengikuti kemana arah ular itu pergi. Langkah berkelok-kelok ular itu berhenti pada sebuah semak rimbun, dari jarak yang tidak jauh telihat sosok Laksito yang sedang mengikutinya, namun kini Ia hanya dapat melihat ekor dari ular itu yang bergerak-gerak kekanan kekiri dan sesekali memutar karena tertutup semak.
“Pertanda apa ini sampai-sampai aku mengalami hal seperti ini? Apakah ini tafsir dari mimpi ku semalam?” Gumam Laksito dalam hati sembari memegang janggutnya.

Setelah  beberapa saat kemudian Laksito yang bengong, tak sadar jika ular belang bermahkota emas itu telah menghilang. Dia menghampiri semak itu dan mencari-cari kemana ular itu pergi, namun Ia tidak menemukannya. Yang Ia temukan hanya selaput bening berkilauan yang tidak lain adalah sisik milik ular itu, Laksito pun memungutnya dan memasukannya kedalam saku celananya. Lalu setelah itu Ia bergegas pergi ketempatnya tadi, dan segera merampungkan pekerjaannya.
“Akhirnya selesai juga, ya sudah aku bereskan semuanya dan segera kembali kependopo.” Ucap Laksito yang terlihat senang karena pekerjaanya kini telah selesai dan dengan segera Ia pulang kependopo.

Laksito pun pulang kependopo memikul kerajang bambu yang penuh dengan rumput hijau segar melewati jalan yang tadi pagi dilewatinya, ditengah jalan untuk mengusir sepi dengan suaranya yang terengah-engah Laksito mendendangkan lagu kesukaannya ‘Gambang Suling’.
“Gambang suling, Kumandang swarane ...” seperti itulah Laksito bernyanyi.

Sampailah kini Laksito dipendopo dan ditempatkannya langsung rumput itu digubug kecil tempat menyimpan pakan kuda. Setelah itu Laksito bejalan menuju Bi Ojah yang sedang sibuk didapur, sambil berjalan kedapur Laksito berfikir mengapa tadi di sepanjang jalan Ia pulang tak ada seorangpun yang menjawab sapaanya.
“Bi Ojah sedang masak apa? Aku lapar Bi.” Ucap Laksito yang kini berada disamping Bi Ojah dan langsung dengan cepat menyabar tempe mendoan yang sedang ditiriskan.

Bi Ojah pun terkaget mendengar suara itu hingga abu dari tungku yang sedang ditiupnya dengan selonsong bambu berhamburan mengenai wajahnya, karena Ia melihat tak ada seorang pun manusia diruangan itu kecuali dirinya.
“Duh Gusti.. siapa itu?” teriak Bi Ojah sembari mengusap wajahnya yang penuh abu.
“Ini aku Bi Leksito, aku disamping Bibi.” Jawab suara itu sambil memegang tangan Bi Ojah yang menodongkan selongsong bambu.
“Jangan berbohong kamu, kamu pasti setan. Tolong, tolong Gusti.. ada setan” Bi Ojah berteriak meronta-ronta mencoba melepaskan tangannya yang dipegang Laksito yang kasat mata.
Mendengar teriakan Bi Ojah Gusti Kanjeng Bupati bergegas keluar menuju dapur tempat Bi Ojah berada.
“Tenang Bi Ojah, ada masalah apa hingga Bibi berteriak?” tanya Kanjeng Bupati sembari menenangkan Bi Ojah yang berteriak meronta-ronta.
“Mohon maaf Gusti, tadi ada suara namun tidak ada wujudnya mengaku sebagai Laksito Gusti. Tapi saya tidak percaya, itu pasti jin Gusti yang mengaku sebagai Laksito.” Jawab Bi Ojah dengan suara tersendak-sendak ketakutan.
“To, Laksito? Cah bagus.. apa benar sejatinya itu memang kamu?” Ucap Gusti Bupati menanyakan kepada suara itu dengan nada tenang dan berwibawa.
“Iya, benar Gusti ini hamba. Hamba abdi kinasihmu Laksito.” Jawab suara tanpa wujud itu.
“Lalu jika memang benar itu kau, mengapa kau bisa seperti ini To? Apa yang terjadi sebenarnya? Coba kamu ceritakan kepada ku?” tanya Gusti Bupati seolah-olah berhadapan dengan sosok Laksito yang kasat mata.
“Hamba juga bingung Gusti, hanya tadi hamba mengabil sisik ular yang terlepas.” Ucap Laksito menjelaskan kepada sinuwunnya.
Bi Ojah dan pelayan lainnya yang melihat Gusti Bupati berbicara dengan suara itu hanya clingak-clinguk saja karena bingung dan takut mendengar suara tanpa wujud itu.
“Baik To. Begini saja, dimana kamu simpan sisik itu?”Gusti Bupati melanjutkan pertayaanya
“Dikantong hamba Gusti.” Jawab Laksito.
“sekarang kamu keluarkan sisik ular itu dan jauhkan dari tubuhmu, letakan disana.” Saran Gusti Bupati kepada Laksito sambil mengarahkan telunjuknya kesebuah meja makan bundar.

Benarlah ketika sisik ular itu dijauhkan dari tubuh Laksito, Laksito yang semula kasat mata kini dapat terlihat kembali. Bi Ojah yang tadinya takut kini berteriak kegirangan melihat Laksito yang ada dihadapannya.
“To, Laksito.. ya ampun Nang suara tadi itu benar-benar suaramu.” Sambut Bi Ojah sambil menepuk-nepuk punggung Laksito.

Rasa senang dan bahagia para penghuni istana pada saat itu hanya bertahan sebentar, Gusti Bupati yang melihat sisik yang dibawa Laksito itu bertuah menjadikan dia berhasrat untuk memilikinya. Gusti Bupati memaksa Laksito untuk memberikan sisik itu kepadanya dengan iming-iming menaikan jabatan Laksito menjadi sekretarisnya. Namun Laksito tetap bersih kukuh terhadap pendiriannya menolak hal itu karena dia menganggap itu adalah amanat yang diberikan Tuhan kepadanya. Laksito terpaksa melawan sinuwunnya itu, kini mereka saling adu dorong memperebutkan sisik itu. Namun karena tubuh dan badan Laksito lebih besar akhirnya didorongnya lah sinuwunnya itu hingga terjatuh kelantai. Secepat kilat tangan Laksito mengambil sisik ular yang berada diatas meja dan kemudian dimasukkannya benda itu kedalam mulutnya. Alih-alih bermaksud hanya untuk menyembunyikannya saja tapi tanpa sengaja sisik ular itu tertelan. 
Perlahan-lahan sedikit demi sedikit tubuh Laksito hilang raib.

Leksito menyesal dan meminta maaf kepada Gustinya itu. Tapi hati Gustinya itu masih tertutup oleh amarah yang menyelimutinya. Dilain sisi suara tangis pecah Bi Ojah mulai terdengar mengiringi sosok seorang pemuda yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri mulai lenyap. Akhirnya setelah beberapa saat kemudian Gusti Bupati mulai sadar bahwa semua itu adalah kesalahannya. Justru kini Gusti Bupati lah  yang meminta maaf kepada Laksito.
“To, Bocah bagus. Sebenarnya akulah yang bersalah atas semua ini, aku menjadi gelap hati oleh nafsu dan hasrat untuk memiliki sisik itu. Sisik itu milik mu to, aku menyesal telah melakukan semua ini. Coba saja aku tidak melakukannya pastilah sekarang engkau masih bersama kami.” Ucap Kanjeng Bupati kepada Laksito yang sebentar lagi benar-benar lenyap.
“Hamba memaafkan Gusti, mungkin ini sudah menjadi nasib hamba. Tapi izinkanlah hamba untuk terus mengabdi disini selamanya gusti.” Jawab Laksito yang suaranya mulai melirih.
“Baiklah… Laksito wujudmu sekarang sudah tidak ada, permintaan dan perintahku jika kamu ingin mengabdi selamanya disini tolonglah jaga rakyatku yaitu rakyat Brebes… dan karena kamu masih perjaka dan menelan sisik ula poleng (Ular Belang) maka namamu aku ganti menjadi Jaka Poleng…”


Sumber :
http://www.iseng-iseng.tk/
http://brebes-punya.blogspot.com
Previous
Next Post »
0 Komentar