Pandangan Kepemimpinan dalam Persepektif Kristen dan Kuasa Jawa

09.00

Baca Juga

Kepemimpinan dalam Pandangan Kristen

Dalam Theologia Agama Kristen, sifat-sifat yang baik bagi umat Kristen sering kali diberi nama “Kebajikan”. Para ahli theologia didalam Gereja-Gereja Purba dan Gereja Khatolik Roma membahas tujuan kebajikan pokok seperti ini, yang dapat pula digolongkan ke dalam kebajikan adi kodrati dan kebajikan kodrati itu sendiri.

Kebajikan Adi Kodrati meliputi sebagai berikut ini:
  • 1.       Iman
  • 2.       Pengharapan
  • 3.       Kasih

Kebajikan Kodrati meliputi sebagai berikut ini:
  • 1.       Penguasaan diri (kesederhanaan)
  • 2.       Keadilan
  • 3.       Ketabahan
  • 4.       Kebaikan

Dalam perjanjian yang Baru (Injil), ada beberapa daftar dari kebajikan orang Kristen. Dalam Matius (5: 1-12) Yesus Kristus sendiri menyebutkan beberapa dari unsur kebajikan, yaitu:
  • 1.       Merasa miskin dihadapan Allah.
  • 2.       Berduka cita karena adanya kejahatan.
  • 3.       Lemah lembut.
  • 4.       Lapar dan haus akan kebenaran.
  • 5.       Murah hati.
  • 6.       Suci hati karena akan melihat Allah.
  • 7.       Pembawa damai sebagai anak Allah.
  • 8.       Bersemangat karena memperjuangkan kebenaran.
  • 9.       Berbahagia karena akan difitnah orang jahat.
  • 10.   Bergembira karena akan ditempatkan di surga.

“Kasih” didalam pengertian agama Kristen berarti memberikan diri kepada orang lain dengan penuh kecintaan, karena manusia dalam agama Kristen memang dituntut lebih mementingkan kebutuhan orang lain daripada diri sendiri. Jadi, kasih menurut mereka berarti kesediaan untuk mengorbankan diri sendiri untuk orang lain, sebagaimana Kristus Yesus mengorbankan diri untuk manusia.

Hampir semua orang Kristen setuju bahwa hukum kasih di dalam agama Kristen, adalah merupakan norma-norma pokok untuk kehidupan manusia, tetapi hanya saja kita melihat bahwa huungn antara kasih dan norma-norma yang lebih terperinci masih perlu dipertanyakan, yaitu misalnya apakah kita dapat melakukan ilmu negara, pemerintahan, politik, hukum serta administrasi negara serta lain-lainnya, sementara kita harus berpegang teguh pada norma pokok, yaitu kasih.


Kepemimpinan dalam Konsep Kuasa Jawa

Ing ngarso sung tuladha, ing madya amangun karsa, tut wuri handayani” (Di depan menjadi teladan, di engah bersama-sama membangun kemauan, di belakang memberikan dorongan kekuatan). Begitulah kurang lebih makna yang dimaksud oleh salah seorang guru bangsa, Ki Hajar Dewantara.

Menurut Martin Moentadhim SM, konsep kriteria pemimpin negara bijaksana (ratu wicaksana) yang dikembangkan bangsa Indonesia sejak zaman Mataram Islam pada abad ke-16 sampai era orde baru, tak lain ialah konsep Hinduisme yang dikembangkan dari sifat delapan seperti digambarkan dalam kisah Ramayana karya Walmiki.

Kitab ini diantaranya diterjemahkan oleh kiai yasadipura I (1729-1802) menjadi Serat Rama. Pada halaman 432-435 buku yang pernah diterbitkan di Semarang pada 1919 inilah, dituliskan “lampah” (laku, watak) raja bijaksana seperti dinasihatkan Pangeran Rama kepada adiknya, Barata, yang ditunjuknya menjadi pemangku raja selama ia mengembara.

Bagian “Serat Rama” ini disebut “Astabrata” yang oleh “kamus Jawa-Belanda” Th. Pigeaud disebutkan “Delapan Kebajikan Negarawan”. “Waspadalah, kedelapan dewa harus ada padamu salah satu dari yang delapan itu, kalau tidak kedudukanmu sebagai raja akan ada kekurangannya” kata Rama kepada Barata seperti ditulis Pujangga agung Keraton Surakarta Yasadipura I dalam “Serat Rama” halaman 432.

Yasadipura I menulisnya dalam tembang 20 bait. Akan tetapi, ahli ilmu pemerintahan Soemarsaid Moertono dalam bukunya: “Negara dan Usaha Bina-Negara di Jawa Masa Lampau” meringkasnya menjadi delapan butir, yang “seyogyanya dimiliki oleh raja”.

Adapun kedelapan butir tersebut adalah:
  • 1.       Dana (kedermawanan) yang tidak terbatas, ini adalah sifat Batara Indra, kepada semua dewa bawaan.
  • 2.       Kemampuan untuk menekan semua kejahatan, ini sifat dari Dewa maut, Yama.
  • 3.       Berusaha membujuk dengan ramah dan tindakan yang bijaksana, diambil dari sifat dewa matahari, Surya.
  • 4.       Mempunyai rasa kasih sayang seperti wataknya Batara Candra.
  • 5.       Memiliki pandangan yang teliti dan pikiran yang dalam, seperti wataknya Bayu, dewa angin.
  • 6.       Kedermawanan dalam memberikan harta benda, hiburan, seperti wataknya dewa harta duniawi, Kuwera.
  • 7.       Memiliki kecerdasan yang tajam dan cemerlang dalam menghadapi kesulitan macam apapun, laksana sifat Dewa laut, Baruna.
  • 8.       Memiliki sifat keberanian yang berkobar-kobar dan tekad yang bulat dalam melawan setiap musuh, laksana sifat dari dewa api, Brama.
Previous
Next Post »
0 Komentar