Tidak Diakui di Indonesia, Kompor Biomassa Penemuan Anak Bangsa Ini Diproduksi Massal di Norwegia

07.32

Baca Juga

Hasil karya anak bangsa sekali lagi tidak diakui dinegaranya sendiri. Penemuan sebuah kompor biomassa hasil penelitian dari salah seorang dosen Fakultas MIPA Universitas Brawijaya, Muhammad Nurhuda telah mendapatkan pengakuan di pasar internasional, bahkan sampai detik ini di Norwegia sudah masuk dalam tahap produksi massal.
“Selain dipasarkan dan diproduksi massal di Norwegia, pemasaran dan produksi biomassa yang ditangani pihak ketiga, yakni Primecookstove ini juga dipasarkan di sejumlah negara, seperti India, Meksiko, Peru, Timor Leste, Kamboja dan negara-negara di belahan Afrika,”
Jika kita bandingkan dengan jenis kompor tradisional yang mempergunakan minyak tanah sebagai sumber nyala apinya, jelaslah kompor biomassa hasil penemuan Muhammad Nurhuda ini sangat jauh lebih hemat dalam bahan bakarnya dan juga lebih ramah lingkungan. Sebab kompor ini tidak menimbulkan asap dan juga emisi dari gas buangnya jauh dibawah batas garis yang telah ditetapkan oleh WHO. Dari segi bahan bakarnya sendiri  pun merupakan kayu cacahan yang saat ini sudah diproduksi secara massal hingga 20 ton setiap harinya. Selanjutnya bagaimana dari segi masyarakat di daerah pedesaan yang kemampuan daya belinya rendah? Bisa dengan menggunakan kayu dari pepohonan sekitar yang banyak sekali ditemukan berserakah di wilayah pedesaan mereka. Selain jenis kayu cacahan, dapat pula dengan menggunakan pelet sawit ataupun butiran kayunya. Bahkan dari pelet sawit dan juga butiran kayunya ini mampu menghasilkan bau masakan yang lebih harum dan juga beraroma.
Memiliki respon yang bisa dikatakan luar biasa di pasar luar negeri, lalu pertanyaanya sekarang bagaimana dari segi pasar dalam negeri?
Kompor Biomassa via Republika.com
Ternyata di dalam negeri sendiri kompor biomassa ini terbilang sepi peminat dan bahkan yang lebihnya lagi kebanyakan masyarakat enggan untuk membelinya. Hal seperti ini memang dapat dikatakan cukup ironis jika melihat sudah berapa banyak hasil karya dari anak bangsa yang telah diminati oleh pasar luar negeri. Sebelum penemuan kompor biomassa ini ada juga mobil elektrik karya dari Ricky Elson yang telah diminati oleh negara tetangga namun sepertinya memang Ricky Elson enggan untuk meneruskan pinangan dari negara tetangga ini. Sementara teknologi 4G karya Profesor Khoirul Anwar lebih memilih untuk mematenkannya di Jepang.
Kedepannya pemerintah semoga saja dapat lebih jeli lagi dalam melihat hal hal yang seperti demikian ini, dan dapat pula mencegah karya-karya dari anak bangsa untuk dipatenkan di luar negeri. Dan besar harapan semoga saja penemuan kompor biomassa ini tidak dipatenkan di luar negeri lagi, mengingat mulainya produksi massal yang dilakukan di Norwegia.
Bagaimana menurut pendapat anda? Berikan tanggapan mu dengan berkomentar.
Sumber : Republika.com
Previous
Next Post »
0 Komentar