Johanes Kepler dan Akbar The Great

01.30

Baca Juga

"Betapa indahnya kehidupan di dunia seandainya keharmonisan di antara planet-planet terjadi juga pada kehidupan manusia." (John Kepler)

"Pikiranku tak tenteram karena ada banyak iman dan sekte, mengapa tiap orang memberi nama yang berbeda-beda untuk Zat yang Maha Tinggi?" (Akbar The Great)

Diusir dan diperlakukan secara keji, terombang ambing di lautan ganas nan sunyi, dan akhirnya terdampar dari negeri sendiri. Sebab di Tanah kelahirannya, mereka tak diakui sebagai warga pribumi. Itulah nasib muslim Rohingya di Arakan, daerah termiskin dan terisolasi di utara Myanmar. Nampaknya, di era globalisasi ini, bagi penguasa militer Myanmar, terlahir seorang muslim adalah kesalahan fatal yang tak termaafkan.

Sementara itu di anak benua India, negeri multietnik dan multiagama nan kaya budaya. Saat Baginda Jalal ud-Din Muhammad Akbar bertahta. Ada kegelisahan menggeliat.
Orang Eropa memberi julukan Akbar "The Great" (1542-1605 M), Raja Mogul generasi ke-3, pendiri dinasti Mogul di India. Rasa hormat akan kebesaran yang dia peroleh dari kawan maupun lawan bukanlah karena luas kekuasaannya bukan pula dari silsilahnya dan bukan pula karena kemampuan tempurnya.

Dia hanya seorang remaja 18 tahun saat naik tahta, pun seorang buta huruf yang mengalami disleksia pula. Namun Sultan Akbar mendirikan "kerajaan bergerak" supaya lebih mudah bertemu rakyat dan dapat langsung memerhatikan perkembangan di dalam negaranya. Dia juga menggalakkan perdagangan dan membagi-bagikan Tanah untuk memudahkan urusan bea cukai. Para pemungut cukai akan diberi sanksi berat bila kedapatan mengutip cukai melebihi yang seharusnya. Bahkan, dia menghapus cukai yang selama ini dibebankan kepada rakyatnya yang nonmuslim. Sesuatu yang sudah menjadi tradisi.

Tapi itu belum seberapa, Sultan memiliki hati yang selalu gelisah. Kegelisahan yang digerakkan karena adanya ketidakadilan, pertentangan niai-nilai, dan intrik politik tak berkesudahan yang terjadi di depan matanya. Tetapi, bagaimanapun kita harus memberikan apresiasi yang tinggi pada Akbar yang telah merintis terjadinya dialog antarumat beragama. Sebab, di saat yang sama nun jauh di Eropa sana, Johannes Kepler, seorang tokoh besar lainnya harus rela mengalami penganiayaan dan penistaan atas nama agama. Memang, selama kurun waktu 30 tahun (1614-1648) Eropa porak poranda oleh pembunuhan dan penjarahan berlatar agama di mana Jerman harus rela kehilangan sepertiga jumlah warganya.

Intoleransi dan kekerasan agama sangat memuakkan bagi Kepler, sebab selama karirnya sebagai astronom, yang bias disebut terbesar sepanjang masa, dia telah menyelidiki, menyaksikan dan takjub dengan keharmonisan planet-planet. "Betapa indahnya kehidupan di dunia seandainya keharmonisan di antara planet-planet terjadi juga pada kehidupan manusia." tulisnya pada sebuah catatan.


Ya, Kepler memang bukan ilmuwan sembarangan, dia telah menghantarkan umat manusia keluar dari kegelapan abad pertengahan menuju zaman modern. Berkat penelitiannya lah sekarang kita tahu bahwa matahari bukanlah sekadar pusat dari tata surya namun berfungsi seperti sebuah magnet besar yang berputar pada porosnya dan memengaruhi gerakan planet-planet yang mengelilinginya dalam sebuah orbit elips dengan kecepatan bervariasi sesui jaraknya dari matahari. Sebuah konsep yang benar-benar baru di zamannya.
Previous
Next Post »
0 Komentar