Start-up Industries: Treat or Threat?

Print Friendly and PDF 0 Viewers

Baca Juga ya

Start-up Industries: Treat or Threat? - Lima belas tahun yang lalu, pekerja-pekerja Amerika khawatir soal persaingan dari pekerja-pekerja asal Meksiko yang bisa dibayar lebih murah. Hal yang masuk akal karena pada dasarnya manusia dapat saling menggantikan. Hari ini, fenomena ini kembali terjadi. Amerika mencemaskan kemajuan teknologi beberapa tahun mendatang karena dipandang sebagai Globalisasi yang berulang. Hanya saja, situasinya berbeda: orang-orang bersaing untuk mendapatkan pekerjaan dan sumber daya; komputer tidak bersaing untuk apapun.

Jalur karier sebagian besar insinyur cukup standar: sekolah, pelatihan lanjutan, bekerja di perusahaan multinasional selama 30 tahun atau lebih, kemudian pensiun dengan tenang. Seiring perkembangan zaman, trend kerja pun mengalami pergeseran. Startup telah menjadi primadona -baik di bidang industri teknologi, perangkat medis, layanan bisnis, atau bidang lainnya- sebagaimana perusahaan multinasional. Dinamika itu tidak hanya mengubah sifat jalur karir insinyur tetapi juga dunia industri secara keseluruhan.



Siapa yang tak kenal dengan GO-JEK? Perusahaan yang didirikan oleh Nadiem Makarim ini sukses menjadi salah satu startup Indonesia yang memecahkan masalah dan membawa dampak positif di kota-kota besar. Perusahan ini bahkan merupakan salah satu startup Indonesia yang dijuluki Unicorn Startup, atau startup yang sudah punya nilai jual paling tidak $1 milyar. Berawal dari Go-Ride, layanan ojek daring yang bisa dipesan kapanpun dan dari manapun, startup Indonesia yang berdiri di 2010 ini mengembangkan fitur-fitur lain yang berguna bagi kehidupan sehari-hari. Layanan taksi online Go-Car, pesan antar makanan Go-Food, pengiriman barang Go-Send, pengangkutan barang dalam mobil Go-Box, jasa titip beli Go-Mart, layanan pijat panggilan Go-Massage, jasa pembersihan rumah Go-Clean, hingga perawatan kecantikan yang hadir ke rumah Go-Glam.

Karena kesuksesannya, pada Agustus 2016 startup Indonesia ini memperoleh suntikan dana sebesar US$550 juta dari sebuah konsorsium internasional. Selain itu, GO-JEK juga berhasil mendapatkan ASEAN Entrepreneur Award dari World Knowledge Forum di Seoul, Korea Selatan pada Oktober 2016 lalu. Startup Indonesia ini tidak hanya berjaya di negeri sendiri, tapi juga sudah melanglang buana dengan membuka kantor perwakilan di Bengaluru, India.

Saat ini, perusahaan-perusahaan yang berusia kurang dari lima tahun terhitung menciptakan rata-rata 1,5 juta pekerjaan per tahun selama 30 tahun terakhir, menurut Yayasan Kauffman, sebuah yayasan berbasis non profit di Kota Kansas yang berfungsi untuk mendukung kewirausahaan nasional. Bahkan selama resesi terakhir, startup yang gesit ini bernasib lebih baik daripada rekan-rekan mereka yang lebih besar, terus menambah pekerjaan pada tingkat 8,6 persen antara tahun 2006 dan 2009.
Suka atau tidak, bagi banyak orang, pekerjaan startup adalah pekerjaan masa depan, belum lagi masa sekarang. Tom Meredith, CEO dari Bitminutes mengatakan “Pendidikan keteknikan adalah tentang beradaptasi dan belajar bagaimana mempraktikkan teori serta menangani masalah. Pola pikir itu sangat berguna bagi startup”.

Bekerja di startup berarti harus siap untuk menggulung lengan baju dan mengencangkan sabuk. Pekerja harus siap dengan ketidakpastian serta atmosfer kerja yang tidak stabil. Ada banyak stereotip yang berkaitan dengan kehidupan di startup: meja ping-pong di ruang istirahat, makan siang gratis setiap hari, gaji setinggi langit, dan jutawan berusia 20an tahun. Bekerja di startup tidak terlalu mementingkan hierarki. Seluruh inovasi bisa masuk dari siapa saja, selagi sejalan dengan visi dan menjawab permasalahan yang ada. Sebagai perusahaan kecil, setiap detak nadi startup akan didedikasikan untuk pertumbuhan dan kemajuan perusahaan atau mati. Sangat masuk akal bila orang-orang yang berkecimpung di dalamnya kerap menganalogikan seperti menaiki roller coaster. Ya, sedinamis itu. Keuntungan dari bekerja di perusahaan yang dinamis, startup dapat membuat Anda mampu bekerja lebih efisien, memperluas batasan tanggung jawab, pengetahuan, dan belajar mengerti segala hal tentang bisnis.

Kekurangannya tentu tidak bisa dielakkan. Bekerja di lingkungan yang begitu dinamis membuat pekerja harus siap dan selalu kuat dengan setiap keputusan yang ada karena menyangkut keberlangsungan usaha. Termasuk siap untuk dipecat, diarahkan ke pekerjaan lain, dsb. Pekerja dituntut memiliki mental dan psikologis yang baik dan hal ini susah didapat generasi masa kini. Bagaimana tidak, hidup yang dihabiskan di dunia sosial media membuat mereka lupa seni bersosialisasi dan mengembangkan mutu manajemen diri.

Pets.com diluncurkan pada bulan Agustus 1998, sebagai online marketplace untuk pemilik hewan peliharaan. Lewat Pets.com, pemilik hewan peliharaan akan menghemat waktu dengan berbelanja online dan membayar lebih sedikit untuk sejumlah besar produk hewan peliharaan. Dengan anggaran pemasaran yang cukup besar saat peluncuran, situs ini dengan cepat berhasil memperoleh pendanaan sebesar US$ 80 juta. Sayangnya, pada akhir tahun 2000, startup itu menutup layanannya setelah membakar US$ 300 juta dalam waktu sekitar dua puluh tiga bulan.

Lantas dengan berbagai pro dan kontra terkait bekerja di startup, semua keputusan dikembalikan kepada diri masing-masing. Bekerja di korporasi tertata ataupun di startup tak menjadi masalah selagi sejalan dengan visi hidup individu. Di era revolusi industri ini, tak mungkin bagi kita menyangkal kebutuhan akan teknologi informasi. Perbedaan yang mencolok antara manusia dan mesin mengandung arti bahwa keuntungan dari bekerja dengan mesin jauh lebih tinggi daripada pertukaran jasa dengan manusia lain. Perbedaan pada sisi permintaan bahkan lebih besar. Tidak seperti orang-orang di negara industri, mesin tidak menuntut makanan mewah; yang mereka minta hanya energi yang sesuai dengan kebutuhan, bahkan dalam hal ini pun mereka tidak cukup cerdas untuk memintanya. Ketika merancang teknologi baru untuk membantu memecahkan masalah, kita mendapatkan seluruh keuntungan dalam efisiensi dari sebuah mitra pertukaran dengan spesialisasi yang luar biasa tanpa harus bersaing dengannya dalam hal sumber daya. Sehingga teknologi tak layak disebut substitusi, melainkan melengkapi dunia industri itu sendiri.

Oleh : Iqbal Nurrhakim

Referensi:
Schwabb, Klauss. 2016. The Fourth Industrial Revolution. Geneva : World Economic Forum.
Thiel, Peter and Blake Masters. 2015. Zero To One. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
https://id.techinasia.com/20-startup-gagal-asia-2015 (diakses 24 Agustus 2018)
https://www.businessinsider.com/dont-work-for-a-startup-2016-3/?IR=T (accessed 24 August 2018)
Ries, Eric. 2017. The Lean StartUp. Jakarta : PT Bentang Pustaka.

________________
Kementerian Kajian Strategis
BEM KMFT UGM
Kabinet Langkah Seirama

BAGIKAN
Previous
Next Post »
0 Komentar